

Seekor Colibri terbang mendekati sekuntum bunga berwarna-warni. Naluri Colibri
itu menyatakan bahwa warna-warni bunga itu menjanjikan adanya madu, atau ‘nectar’, satu-satunya zat
yang sesuai bagi kehidupan burung Colibri. Tiba pada sasaran-nya, burung tadi tidak menghinggapi
kuntum bunga itu, tetapi ‘bergelayutan’ di udara, mengandalkan sayap-sayap
mungil, namun kuat, mengepak ratusan kali setiap menit. Ruarrr biasa!
Paruhnya diselusupkannya ke dalam kuntum bunga itu, menyelinap di antara
benang-benang sari ke sasarannya: putik bunga yang berisi madu murni!
Tidak perduli lagi Colibri itu akan daun-daun bunga yang berwarna-warni itu.
Tak perduli dia akan benang-benang sari yang berayun-ayun menggelitik paruhnya
dan wajahnya. Tidak perduli dia, bahwa kehadirannya sudah dimanfaatkan
oleh pihak lain: membuat tepung-sari berpelantingan, menyerbuki putik di
tengah bunga…. Colibri memusatkan perhatiannya kepada urusan satu-satunya:
menghirup nectar-kehidupan! Bahkan dia tidak terganggu oleh terpaan
angin pada tubuhnya. Dalam menghadapi terpaan angin, Colibri tidak mengandalkan daun-daun
bunga untuk landasannya berpijak; dia mengandalkan tenaga-kehidupannya: kepakan
sayap-kecil, namun penuh tenaga, mengepak ratusan kali setiap menit. Sungguh
luar biasa!
SAUDARA
YAN TERKASIH, perilaku
kehidupan burung Colibri menggambarkan dengan tepat dan indah: perilaku
kehidupan murid Yesus, atau Kaum Injili, kaum yang dirindukan oleh
Yesus Kristus, ‘Colibri’Nya Yesus…
Pada
awalnya, ‘Colibri’(-Nya Yesus) menyimak adanya warna-warni khotbah, pengajaran,
dan membaca Kitab-kitab di dalam Bible. Semua hal itu adalah ‘daun-bunga
yang berwarna-warni’, aneka-warna pengajaran dari luar Alkitab (Ilmu
Sekunder) dianggap kebenaran, harus ditaati! ‘Benang-sari’ menggambarkan
keindahan kisah dan kehalusan sastra dalam banyak tulisan agamawi {Taurat-Musa
beserta Kitab para Nabi, Kitab dan Surat dalam Perjanjian Baru, bahkan
juga Al Qur’aan}, semua dianggap kebenaran pengajaran tentang TUHAN. ‘Tepung-sari’ menggambarkan
keindahan syair-demi-syair, kata-demi-kata yang indah-indah, disajikan
dalam Kitab-kitab pegangan Agamawi. Dan ‘putik-bunga’, yakni pusat
dari bunga, yang mengandung madu, dan akan menjadi buah, adalah pusat
kebenaran!
Dari ‘semua kebenaaran’ yang diyakini manusia umumnya, ‘Colibri’Nya Yesus
mengamati adanya suatu ‘putik-bunga’, ‘pusat kebenaran’, boleh juga
disebut ‘kebenaran mutlak’, yang di’claim’ oleh Yesus, sebagai diriNya
sendiri, nyata dalam sabdaNya [Yoh.14:6]: “Aku adalah jalan dan kebenaran
dan hidup…”, suatu ‘claim’ yang tidak ada tokoh lain berani mengeluarkannya!
Berarti di luar Yesus, tidak terjamin diperoleh kebenaran; mungkin benar
mungkin salah!
Dari Tokoh Kebenaran memancar keluar kebenaran-kebenaran, dalam bentuk Sabda
Kebenaran Yesus, jaminan hidup-kekal bagi penganut dan pelaku Sabda Kebenaran
itu. Jaminan ini dikemukakan oleh Yesus sendiri dalam Mat.7:24 dan Yoh.6:63…
Mat.7:24: ”Setiap orang yang
mendengarkan perkataanKu dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana,
yang mendirikan rumahnya di atas batu…”
{Yesus tidak mengatakan: Setiap orang yang melakukan Firman Tuhan,
melainkan yang mendengarkan dan melakukan perkataanKu. Jadi, mereka
yang menyimak dan melakukan Sabda Kebenaran yang dikeluarkanNya dari
mulutNya semasa Ia tampil sebagai Anak Manusia di bumi ini}.
Yoh.6:63: “…Rohlah yang memberi
hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan
kepadamu adalah Roh dan hidup…”
Yoh.5:24; Yoh.6:68; Mat.24:35; Ko.3:16; 1Tim.6:3; dll.; (Tidak dikutip),
Claim Yesus ini menunjukkan wibawa-perkataan yang Yesus ucapkan dari mulutNya,
dalam penampilanNya selaku Anak-Manusia, bukan menunjuk kepada
catatan-catatan lain di dalam Alkitab!
Perkataan-perkataan Yesus adalah pusat kebenaran. Ini diamati, lalu diimani oleh ‘Colibri’Nya Yesus.
Dan perkataan-perkataanNya yang dilaksanakan oleh pengikutNya [sesuai
dengan Mat.7:24 &Yoh.6:63] menjadi sumber kehidupan(-kekal)
atau ‘nectar kehidupan’ pengikut Yesus. Semua ini selaras dengan ‘claim’ Yesus: “Akulah
Jalan dan Kebenaran dan Hidup…” [Yoh.14:6].
Pengajaran
Yesus, yang berangkat dari pikiran Kristus, itulah
yang harus disimak, dan diimani/dilaksanakan oleh ‘Colibri’Nya Yesus
(murid Yesus atau Kaum Injili). Wajarlah, Rasul Paulus menyatakan [2Kor.10:3-6]:
Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan
senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Theos, yang sanggup untuk meruntuhkan
benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan
setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan
akan Theos. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada
Kristus…
COLIBRI
KECIL, adalah makhluk yang sangat kecil, tampil tidak berdaya, seolah-olah
tidak berarti; namun ia memilih nafkah-kehidupan yang istimewa:
madu-murni. Seperti itulah KAUM INJILI, yang: (1)kekuatannya sedikit,
namun (2)hidup ber-pusatkan firman Yesus yang murni dan (3)tidak menyangkal
nama Yesus (satu nama itu cukup untuk jaminan hidup-kekal [Kis.4:12]!)…
Why.3:8; Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan tidak menyangkali namaKu.
{Memang sedikit
jumlah Kaum Injili, seolah-olah tidak berarti, namun mereka berusaha mentaati
Sabda Yesus serta tidak mengizinkan nama Yesus (nama yang menyelamatkan
diri mereka), disaingi oleh nama-nama lain!}
COLIBRI-KECIL adalah
gambaran KAUM INJILI, yang hanya menginginkan makanan-rohani-murni,
sumber kehidupan(-kekal) mereka, yakni Sabda Kebenaran yang murni yang
Yesus ucapkan dan pengajaran yang keluar dari mulutNya sendiri! Kemudian dilaksanakan secara
tekun oleh Kaum Injili!
COLIBRI-KECIL yang menghirup madu-murni, nafkah kehidupannya,
tidak mau direpotkan oleh warna-warni daun-bunga, demikian juga KAUM
INJILI, yang menghirup ‘nectar-kehidupan-kekal’, yakni Sabda KebenaranNya
Yesus dan pelaksanaannya. Mereka tidak repot-repot merenung-renungkan
pelbagai pengajaran lain, baik yang disampaikan oleh Muhammad, oleh Musa
dan nabi-nabi lainnya, kendati bermake-up-kan istilah “Kitab Suci”! Sebab
Sabda Yesus dan pelaksanaannya cukup untuk menjamin kehidupan-kekal
mereka! {Lebih lagi tidak ambil pusing mereka dengan pengajaran-pengajaran
leluhur, termasuk takhyul, pantangan, aturan-aturan tradisi leluhur,
dsb, yang semuanya berasal dari sembahan-sembahan leluhur (Debata, Lowalangi,
Allah, dll.), tokoh-tokoh sembahan yang sejak zaman Perjanjian Lama sajapun
telah dipantangkan oleh umat Yahudi}…
1Taw.16:26; Sebab
segala allah bangsa-bangsa adalah berhala…
Debata, Dibata, Lowalangi, Naibata, Jubata, dsb. Adalah alllah bangsa-bangsa,
bukan?
Dan Allah adalah allah/berhalanya bangsa Arab! Semuanya hanya berhala!
COLIBRI-KECIL, sementara menghirup madu kehidupan, tidak mau
repot-repot memperhatikan warna-warni daun-bunga. Demikian juga KAUM
INJILI, begitu mulai menghirup ‘Nectar-kehidupan-kekal’,
yakni Sabda KebenaranNya Yesus dan pelaksanaannya, mereka tidak
mau repot-repot menyimak pengajaran-pengajaran asing, kendati bermake-up-kan
kerohanian (Filsafat, Psikologi, Anthropology, Archeology, Ilmu Bahasa,
Theology) dan di’dongkrak’ oleh titel-kesarjanaan. Sebab Sabda Kebenaran
Yesus dan pelaksanaannya cukup bagi mereka. Mulialah Yesus Kristus!
COLIBRI-KECIL tidak perduli akan benang-sari.
Padahal untuk makhluk lain, benang sari terlihat begitu indah, gemulai
melambai-lambai! Begitu pulalah KAUM INJILI, mereka tidak
perduli akan keindahan kisah dan kehalusan sastra dalam banyak tulisan
agamawi! Biarlah hal-hal itu dinikmati oleh ‘makhluk-makhluk’;
Kaum Injili cukup puas dengan ‘nectar’-kehidupan-kekal di dalam Sabda Kebenaran
Yesus Kristus, dan pelaksanaannya. Mulialah Yesus Kristus!
COLIBRI-KECIL juga tidak perduli akan tepung-sari,
padahal bagi makhluk lain (lebah, semut, dll.) itu adalah nafkah kehidupan!
Seperti itulah KAUM INJILI, mereka tidak merepotkan diri
dengan keindahan syair-demi-syair, kata-demi-kata yang indah-indah, disajikan
dalam Kitab-kitab pegangan Agamawi dan Theologia; biarlah semua itu bagi ‘makhluk-makhluk lain’ yang sibuk merenungkan dan mengkhotbahkannya dari mimbar-mimbar,
menjadi jalan beroleh nafkah! Juga menjadi kemuliaan bagi mereka!
COLIBRI-KECIL juga tidak perduli kalau ia sudah dimanfaatkan
pihak lain: burung Colibri menjadi sarana untuk terjadinya penyerbukan
putik bunga, yang pada waktunya akan menjadi buah! KAUM INJILI merasa
sejahtera saja jika ia dimanfaatkan oleh pihak lain, Pemilik Nectar-kehidupan-kekal
(Yesus), untuk memperluas KerajaanNya! Memang, Kaum Injililah yang sibuk
memperluas Kerajaan Sorga, milik Yesus Kristus itu! {Bahkan Kaum Injili
akan tulus saja melayani orang-orang susah dan kaum yang tersisihkan dari
masyarakat [ingat Mat.25:31-46], kendati mungkin
mereka sudah disalah-gunakan oleh orang-orang itu… Mulialah Yesus Kristus!}
COLIBRI-KECIL bahkan tidak terganggu oleh terpaan angin, padahal keadaannya sedang
krisis: ‘bergelayutan’ di udara sewaktu menghisap madu-kehidupannya. Colibri tidak gentar, tidak mencari pijakan pada
daun-daun bunga di dekatnya. Tidak juga ia bersembunyi di balik bunga itu.
Terpaan angin ditanggulangi oleh Colibri dengan mengandalkan kepak-sayapnya yang kuat dan cepat, ratusan kali setiap menit
(Tak ada burung lain yang menyamai kecepatan kepak sayap burung Colibri!).
Colibri mengandalkan kuasa-kehidupannya untuk menahankan terpaan
yang mengganggu dan yang mengancam keselamatannya. Dan kuasa kehidupan
Colibri itu diperolehnya dari madu-murni yang dihirupnya! Mulialah
Yang Mahapencipta! Demikian halnya dengan KAUM INJILI, mereka tidak
mengandalkan pengajaran-asing menjadi landasan iman! Kendati ada ancaman
dari masyarakat di sekeliling-nya, Kaum Injili mengandalkan ‘nectar-kehidupan’ yang
sudah diperoleh dari Sabda Kebenaran Yesus. Mereka bertahan dalam tekanan (dituduh
bukan Kristen), atau hujatan (dicap ”Sesat!”), atau pemecatan (dari
Gereja) atau penghakiman (menginjil dianggap melanggar undang-undang
negara), bahkan dieksekusi (masuk penjara)! Di sepanjang sejarah
dunia, Kaum Injili bahkan menghadapi ancaman maut dengan hati penuh
sejahtera, karena kehidupan-kekal mereka sudah terjamin di dalam Yesus,
bukan oleh pengajaran-pengajaran agamawi atau gerejawi.
....di antara burung Colibri dengan Kaum Injili penting
dicatat. BURUNG COLIBRI mengalami rentetan peristiwa: melihat
dari jauh warna-warni bunga, mendekat, ‘bergelayutan’ di udara,
mengisap madu-murni, untuk kemudian mencari sasaran lain. Rentetan peristiwa
itu berulang-ulang dialami; ratusan, bahkan ribuan kali terjadi di sepanjang
hidupnya! KAUM INJILI menjalani rentetan peristiwa yang serupa,
tetapi satu kali saja seumur hidupnya. Dimulai oleh ketertarikan
seseorang akan Agama atau ketertarikan akan hal-hal rohani melalui pendengaran
atau pembacaan, pada waktunya orang itu berkenalan dengan Yesus sendiri,
sumber air-kehidupan (‘nectar-murni’), lalu ia
akan sibuk menghirup madu-murni kehidupan-nya (Inilah pengalaman pribadi
bersama Yesus!). Sebagian orang masih terpikat/terikat oleh perkara-perkara
sampingan, sebagian kecil saja yang menyibukkan diri menghirup ‘nectar-kehidupan’,
begitu nikmatnya sehingga tidak (ingin) keluar lagi dari sumber kehidupan
itu.
KAUM INJILI, ditinjau dari bentuk kehidupan mereka, tiada berkeputusan
menghirup ‘nectar-kehidupan’, ini berarti terus-menerus mereka ‘bergelayutan’ di udara,
terus-menerus dalam situasi yang kritis! Kaum Injili-lah yang tiada
berkeputusan menghirup ‘nectar-kehidupan’, seraya tiada berkeputusan menjalani
krisis kehidupan, bagi kemuliaan Yesus Kristus! Karena Kaum Injili
terus-menerus beroleh pasokan ‘nectar-kehidupan’ dari
sumber yang tiada habisnya (Yesus Kristus!), maka Kaum Injili dapat bertahan
berlama-lama, terus-menerus ‘mengepakkan sayap’nya beratus kali setiap
menit. Mulialah Tuhan Yesus Kristus!
KAUM INJILI tidak mau tampil lebih bodoh daripada Colibri. Mereka tidak mengizinkan diri terpecah-konsentrasi
dari pekerjaan-utama mereka: (1) menghirup keselamatan
dari Yesus serta (2) mengerjakan keselamatan mereka....
Flp.2:12; Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa
taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan
gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula
sekarang waktu aku tidak hadir...
KAUM INJILI menyadari sungguh, bahwa keselamatan sudah mereka
peroleh secara cuma-cuma melalui pengorbananNYa Yesus. Namun tidak terhenti sampai
di sana. Masih ada urusan yang menyusul: mengerjakan keselamatan (istilah
rasul Paulus). Selaras dengan kerangka-berpikir Yesus: bertobat serta
penebusan diperoleh secara cuma-cuma (Perintah Pertama dari Yesus), namun
segera diikuti oleh Perintah Kedua Yesus: jadilah
penjala manusia!
Mat.4:17, segera diikuti Mat.4:19: 17 Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.”
19 Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Sungguh, KAUM INJILI senantiasa memusatkan kehidupannya kepada
dua perkara utama: Bertobat dan menjala manusia.
Kaum Injili tidak mau direpotkan oleh segala macam angin-pengajaran [Ef.4:14]
yang akan mengombang-ambingkan iman, menyimpangkan pandangan dari Yesus. Kaum
Injili tidak mau menjadi lebih bodoh dari burung Colibri, makhluk kecil
yang bermartabat jauh di bawah manusia. Mulialah
Yesus Kristus selama-lamanya!
¯