Debata?

Berdasarkan hasil penelitian Kontelir G. J.J. Deutz (1872) terhadap batu tertulis yang didapati di Lobu Tua dekat Kota Barus (Tapanuli Tengah), yang isinya baru dapat dibaca pada tahun 1932 oleh Prof. Nilakantisastri mengatakan bahwa: Pada tahun ±1088 M ada 1500 orang Tamil dari India Selatan bertempat tinggal di Barus. Mereka membentuk kesatuan perdagangan (Gilde) untuk mencegah persaingan sesama mereka dalam dagang kapur barus dan kemenyan. [1] Orang-orang India masuk ke Tanah Batak melalui kota Barus (Baros) dan Tapanuli Selatan yang pada waktu itu merupakan kota perniagaan yang sangat penting dalam perdagangan gading badak, gading gajah, kapur barus, kemenyan, emas, dsb. Untuk memperlancar dan mempermudah penyaluran barang-barang dagangan ke luar negeri, mereka membentuk kongsi perdagangan (Gilde) dan sekaligus mendirikan sebuah perkampungan di daerah Barus. Diketahui bahwa orang-orang India Selatan ini datang dari daerah Cola, Pandya, Malayalam, dsb. Mereka dari turunan-turunan orang Tamil yang kemudian hari tinggal menetap di Barus dan Kalasan. Lambat laun sebagian dari mereka mulai masuk ke daerah pedalaman Tapanuli dan melakukan kontak dengan penduduk yang ada di sana. Mungkin karena putus hubungan dengan tanah airnya India, mereka terlebur ke dalam suku bangsa Batak. Dapat dipastikan, bahwa sebagian dari marga Sembiring adalah keturunan mereka; teristimewa yang nama-nama marganya menunjukkan asalnya yaitu: Colia, Pandia, Pelawi, Meliala, juga Brahmana dan Keling.[2]

Debata?

Leave a comment

0 Comments.

Leave a Reply


[ Ctrl + Enter ]

*